ABGX – Persepsi publik tentang radiasi kerap dipenuhi ketakutan, sehingga orang sulit menerapkan cara memahami risiko radiasi secara proporsional dan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang menyamakan semua bentuk radiasi sebagai ancaman besar, padahal karakter dan dampaknya sangat berbeda. Untuk mulai menerapkan cara memahami risiko radiasi, masyarakat perlu mengenali dulu jenis radiasi yang umum, seperti radiasi pengion dan non-pengion. Radiasi pengion mencakup sinar-X dan sinar gamma yang memiliki energi cukup besar untuk merusak sel.
Sementara itu, radiasi non-pengion meliputi gelombang radio, sinyal Wi-Fi, dan cahaya tampak yang kita temui setiap hari. Energinya jauh lebih rendah dan umumnya tidak cukup kuat untuk mengionisasi atom dalam tubuh. Karena itu, tingkat risikonya pun berbeda. Menggabungkan semua jenis radiasi ke dalam satu kategori “pasti berbahaya” justru membuat diskusi publik menjadi rancu.
Selain jenisnya, sumber radiasi juga beragam. Ada sumber alami seperti radon dari tanah dan sinar kosmik dari luar angkasa, serta sumber buatan seperti mesin sinar-X, reaktor, dan peralatan industri. Mengetahui dari mana radiasi berasal membantu kita menilai seberapa besar paparan yang mungkin diterima dan langkah pengendaliannya.
Pakar keselamatan radiasi menggunakan tiga konsep utama untuk menjelaskan paparan: dosis, durasi, dan jarak. Konsep ini menjadi pilar cara memahami risiko radiasi secara lebih tenang. Dosis menggambarkan seberapa banyak energi radiasi yang diserap tubuh, biasanya diukur dalam satuan sievert atau milisievert. Semakin tinggi dosis, semakin besar kemungkinan munculnya efek kesehatan.
Durasi paparan sangat menentukan. Paparan singkat dengan dosis rendah, misalnya saat menjalani rontgen gigi, biasanya membawa risiko sangat kecil. Sebaliknya, paparan tinggi dalam waktu lama, seperti yang bisa terjadi dalam kecelakaan industri tanpa proteksi memadai, jauh lebih berbahaya. Jarak juga berperan penting karena intensitas radiasi menurun cukup cepat ketika kita menjauh dari sumbernya.
Di sisi lain, penting membedakan antara risiko akut dan risiko jangka panjang. Paparan besar dalam waktu singkat dapat memicu sindrom radiasi akut, sedangkan paparan kecil yang berulang secara kumulatif mungkin berkontribusi pada peningkatan risiko kanker. Penjelasan terbuka tentang aspek ini membantu publik tidak menyamakan setiap paparan dengan skenario terburuk.
Radiasi bukan hanya identik dengan kecelakaan dan konflik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam layanan kesehatan modern. Di rumah sakit, prinsip cara memahami risiko radiasi terlihat jelas dalam penilaian manfaat dan risiko setiap prosedur. Pemeriksaan CT scan, misalnya, memang memberikan dosis lebih tinggi dibanding rontgen biasa, namun manfaat diagnosis yang tepat sering kali jauh lebih besar daripada risikonya.
Radiasi juga digunakan dalam radioterapi untuk menghancurkan sel kanker secara terarah. Dalam konteks ini, tenaga medis mengelola paparan agar dosis tinggi terkonsentrasi ke jaringan tumor, sementara jaringan sehat di sekitarnya dilindungi semaksimal mungkin. Ini menunjukkan bahwa teknologi radiasi, jika dikelola dengan standar keselamatan ketat, dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Di bidang industri dan pangan, radiasi membantu sterilisasi alat medis dan pengawetan bahan makanan tertentu. Pengawasan regulasi dan pemantauan rutin memastikan paparan terhadap pekerja dan masyarakat tetap di bawah batas aman yang ditetapkan badan internasional seperti IAEA dan WHO.
Masyarakat sering bingung menilai informasi yang beredar tentang radiasi dari ponsel, jaringan 5G, atau peralatan rumah tangga. Karena itu, cara memahami risiko radiasi perlu mengandalkan sumber ilmiah yang kredibel, bukan sekadar rumor media sosial. Banyak lembaga kesehatan global menyimpulkan bahwa, pada batas paparan yang diatur, perangkat tersebut masih berada dalam rentang aman.
Selain itu, penting membandingkan risiko radiasi dengan risiko lain yang lebih akrab, seperti kebiasaan merokok atau pola makan tidak sehat. Pendekatan ini membantu menempatkan radiasi dalam skala yang lebih mudah dicerna. Sering kali, perhatian publik terfokus pada radiasi yang sangat kecil, sementara mengabaikan risiko besar yang sudah jelas dan terbukti.
Dalam rumah, langkah praktis bisa mencakup melakukan pemeriksaan radon di wilayah yang direkomendasikan otoritas, atau memastikan penggunaan alat kesehatan berbasis radiasi hanya sesuai kebutuhan medis. Diskusi terbuka dengan dokter dan petugas kesehatan mengenai dosis dan manfaat setiap prosedur akan membantu keputusan lebih rasional.
Baca Juga: Penjelasan WHO terbaru mengenai paparan radiasi dan kesehatan masyarakat
Kerangka hukum dan standar teknis menjadi bagian penting dari cara memahami risiko radiasi dalam skala nasional dan global. Pemerintah menetapkan batas dosis untuk pekerja dan masyarakat umum berdasarkan rekomendasi badan internasional. Batas ini mempertimbangkan data epidemiologis jangka panjang, termasuk studi korban bom atom dan pekerja industri nuklir.
Fasilitas yang menggunakan sumber radiasi wajib menerapkan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable), yaitu menjaga dosis serendah mungkin secara wajar. Prinsip ini mendorong penggunaan perisai pelindung, prosedur kerja aman, serta pelatihan berkala bagi pekerja. Akibatnya, insiden serius menjadi semakin jarang terjadi di banyak negara.
Transparansi informasi juga berperan besar. Laporan insiden, hasil pemantauan lingkungan, dan data dosis pekerja yang bisa diakses publik meningkatkan kepercayaan masyarakat. Ketika orang mengetahui bahwa ada sistem pengawasan berlapis, ketakutan berlebihan terhadap semua bentuk radiasi dapat berkurang.
Peningkatan literasi sains di sekolah, media, dan komunitas menjadi kunci untuk menyebarkan cara memahami risiko radiasi yang seimbang. Program edukasi yang menjelaskan konsep dasar radiasi, dosis, serta manfaat dan risikonya akan membantu generasi muda mengambil keputusan berbasis data, bukan rasa takut.
Di era arus informasi cepat, jurnalis dan pembuat konten juga memegang peran strategis. Penggunaan istilah teknis yang tepat, penghindaran sensasi berlebihan, dan konsultasi dengan pakar sebelum menulis berita tentang radiasi sangat menentukan kualitas pemahaman publik. Upaya ini bisa mengurangi miskonsepsi, mulai dari kepanikan tidak perlu hingga penolakan irasional terhadap teknologi bermanfaat.
Pada akhirnya, cara memahami risiko radiasi yang benar berarti memadukan pengetahuan ilmiah, regulasi yang kuat, dan komunikasi publik yang jernih. Dengan keseimbangan tersebut, masyarakat dapat menikmati manfaat teknologi modern sekaligus menjaga keselamatan diri dan lingkungan secara bertanggung jawab.