ABGX – Mitos radiasi dan kanker kerap membuat masyarakat panik setiap kali mendengar istilah radiasi, padahal tidak semua paparan radiasi otomatis berujung penyakit ganas.
Banyak orang mengaitkan mitos radiasi dan kanker dengan semua bentuk radiasi, tanpa membedakan sumber dan tingkat paparannya. Ketakutan ini tumbuh karena kata radiasi terdengar menakutkan dan sering dikaitkan dengan bom atom, kebocoran reaktor, atau prosedur medis. Padahal, radiasi memiliki banyak jenis dan tidak semuanya berbahaya pada dosis rendah.
Secara ilmiah, radiasi hanyalah energi yang bergerak dalam bentuk gelombang atau partikel. Tubuh manusia setiap hari terpapar radiasi alam dari tanah, udara, dan sinar kosmik, namun kadar tersebut umumnya aman. Mencampuradukkan semua bentuk radiasi ke dalam satu kategori berbahaya melahirkan banyak kesalahpahaman yang menguatkan mitos radiasi dan kanker di masyarakat.
Selain itu, pemberitaan tentang kecelakaan nuklir kerap menonjolkan sisi horor tanpa menjelaskan konteks ilmiah. Akibatnya, publik merasa semua kilatan sinar, alat medis, atau menara telekomunikasi pasti memicu kanker. Untuk mematahkan mitos radiasi dan kanker, perlu pemahaman jernih tentang jenis radiasi dan hubungan dosis dengan risiko.
Mitos radiasi dan kanker biasanya mengabaikan perbedaan penting antara radiasi pengion dan non-pengion. Radiasi pengion, seperti sinar-X dan gamma, memiliki energi cukup tinggi untuk merusak DNA sel. Pada dosis besar dan berulang, risiko kanker memang meningkat. Namun, paparan kecil yang terkontrol, misalnya dalam pemeriksaan radiologi, berada dalam batas aman yang diatur ketat.
Radiasi non-pengion, seperti gelombang radio, sinyal Wi-Fi, dan sinar tampak, memiliki energi jauh lebih rendah. Energi ini umumnya tidak cukup kuat untuk memecah ikatan kimia dalam DNA. Badan kesehatan dunia terus meninjau bukti ilmiah dan sejauh ini belum menemukan hubungan konsisten antara penggunaan ponsel sehari-hari dengan lonjakan kasus kanker populasi.
Di sisi lain, industri kesehatan menggunakan radiasi pengion secara hati-hati untuk diagnosis maupun terapi. Prinsip yang dipakai adalah “serendah mungkin tetapi tetap bermanfaat”. Artinya, tenaga medis menimbang manfaat klinis jauh lebih besar daripada risikonya. Pemahaman ini membantu meredam mitos radiasi dan kanker yang sering muncul saat pasien diminta menjalani foto rontgen atau CT scan.
Mengabaikan aspek dosis menjadi salah satu sumber utama mitos radiasi dan kanker. Dalam sains, dosis menentukan apakah paparan radiasi menimbulkan efek kesehatan. Sejumlah lembaga internasional menetapkan batas paparan tahunan bagi pekerja medis, pekerja nuklir, dan masyarakat umum. Batas ini disusun dengan margin keamanan besar dan mempertimbangkan hasil riset jangka panjang.
Sebagai contoh, pemeriksaan rontgen gigi memberikan dosis radiasi yang sangat kecil, bahkan lebih rendah dari radiasi alamiah yang diterima seseorang dalam beberapa hari. Pemeriksaan CT scan memang memiliki dosis lebih tinggi, tetapi manfaat diagnostiknya sangat besar, terutama untuk menemukan penyakit serius secara dini. Karena itu, dokter hanya meminta pemeriksaan ini ketika benar-benar dibutuhkan.
Selain regulasi, perangkat pemancar radiasi modern menjalani pengujian berlapis sebelum dipasarkan. Alat medis, reaktor riset, maupun perangkat komunikasi harus memenuhi standar ketat. Hal ini membuat klaim bahwa setiap paparan kecil akan langsung memicu kanker tidak sesuai dengan bukti ilmiah. Penjelasan mengenai dosis dan regulasi membantu melunakkan mitos radiasi dan kanker yang beredar luas.
Baca Juga: Fakta penting paparan radiasi menurut WHO
Banyak aspek kehidupan modern yang bergantung pada radiasi secara aman. Sinar-X membantu dokter melihat kondisi tulang dan organ dalam. Terapi radiasi digunakan untuk menghancurkan sel kanker yang sudah terbentuk. Di bidang industri, radiasi membantu memeriksa sambungan pipa dan struktur bangunan tanpa merusaknya.
Bahkan, bahan pangan tertentu mendapat perlakuan radiasi untuk membunuh bakteri dan memperpanjang masa simpan. Proses ini dilakukan dengan pengawasan ketat dan tidak membuat makanan menjadi “radioaktif”. Ketakutan berlebihan sering muncul karena orang tidak memahami proses dan mengaitkannya dengan mitos radiasi dan kanker.
Sementara itu, radiasi dari sinar ultraviolet matahari justru menjadi contoh jelas bahwa jenis dan intensitas paparan sangat menentukan. Paparan berlebihan tanpa perlindungan dapat memicu kanker kulit. Namun, paparan terbatas membantu tubuh membentuk vitamin D. Konteks inilah yang sering hilang ketika orang hanya mengingat mitos radiasi dan kanker tanpa melihat keseimbangan manfaat dan risiko.
Perkembangan teknologi akan menghadirkan lebih banyak sumber radiasi di sekitar kita, mulai dari jaringan komunikasi hingga perangkat medis canggih. Agar tidak terus terjebak mitos radiasi dan kanker, masyarakat perlu bersikap kritis terhadap informasi yang beredar. Sumber ilmiah tepercaya dan lembaga kesehatan resmi menjadi rujukan utama, bukan sekadar pesan berantai.
Langkah praktis yang bisa dilakukan adalah menanyakan langsung kepada tenaga medis ketika mendapat rekomendasi pemeriksaan berbasis radiasi. Dokter dapat menjelaskan manfaat, risiko, dan alternatif yang tersedia. Pendekatan dialog ini jauh lebih menenteramkan daripada menolak tindakan medis karena mitos radiasi dan kanker yang tidak berdasar.
Pada akhirnya, pengetahuan ilmiah yang memadai membantu masyarakat mengambil keputusan lebih rasional. Paparan radiasi memang perlu dikendalikan, tetapi bukan berarti semua bentuk radiasi adalah musuh yang harus dihindari sepenuhnya. Dengan pemahaman lebih seimbang, mitos radiasi dan kanker dapat digantikan oleh sikap waspada yang proporsional, bukan ketakutan tanpa dasar.